17 Tempat Wisata di Palembang, Sumatera Selatan yang Wajib Dikunjungi Tahun Ini
17 Tempat Wisata di Palembang, ibu kota Provinsi Sumatera Selatan, adalah salah satu kota tertua di Indonesia yang kaya sejarah, budaya, serta destinasi wisata yang beragam. Mulai dari ikon jembatan megah, wisata religi, kuliner khas, hingga tempat rekreasi bernuansa alam, semuanya dapat ditemukan di kota pempek ini. Bagi wisatawan lokal maupun luar daerah, Palembang selalu menawarkan pengalaman baru yang menarik. Berikut daftar 17 tempat wisata terbaik di Palembang yang wajib masuk ke itinerary liburan Anda.
1. Jembatan Ampera
Jembatan Ampera adalah ikon abadi Kota Palembang. Berdiri kokoh di atas Sungai Musi, jembatan ini menjadi magnet wisata terutama saat malam hari ketika lampu-lampu hiasnya menyala indah. Banyak wisatawan datang untuk berfoto, menikmati kuliner di tepian sungai, atau sekadar berjalan santai menikmati suasana kota. Pemandangan sunset dari area Ampera sangat memukau dan menjadi momen yang selalu diburu wisatawan.
Jembatan Ampera bukan sekadar sarana penyeberangan, melainkan simbol “perjuangan” dan identitas Kota Palembang. Berikut adalah ringkasan sejarah Jembatan Ampera yang menghubungkan daerah Seberang Ulu dan Seberang Ilir:
1. Awal Mula dan Gagasan (1906–1957)
Ide untuk menyatukan dua wilayah Palembang yang dipisahkan oleh Sungai Musi sebenarnya sudah ada sejak zaman kolonial Belanda pada tahun 1906. Namun, rencana ini berkali-kali tertunda karena masalah biaya dan dinamika politik hingga Indonesia merdeka.
2. Pembangunan dengan Dana “Pampasan Perang” (1962–1965)
Baru pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, proyek ini terealisasi.
-
Waktu Pembangunan: Dimulai pada April 1962.
-
Pendanaan: Biaya pembangunannya diambil dari dana pampasan perang Jepang (ganti rugi Jepang kepada Indonesia setelah Perang Dunia II).
-
Arsitek: Menggunakan tenaga ahli dari Jepang (Fuji Car Manufacturing Co. Ltd).
-
Peresmian: Selesai dan diresmikan pada 30 September 1965 (beberapa sumber menyebut 10 November 1965 untuk penggunaan umum).
3. Perubahan Nama: Dari “Bung Karno” ke “Ampera”
Awalnya, jembatan ini bernama Jembatan Bung Karno sebagai bentuk penghormatan kepada Presiden Soekarno yang memperjuangkan pembangunannya. Namun, akibat pergolakan politik tahun 1966 dan gerakan anti-Soekarno, namanya diubah menjadi Jembatan Ampera—singkatan dari Amanat Penderitaan Rakyat.
4. Keunikan: Bagian Tengah yang Bisa Terangkat
Pada masa awal, bagian tengah Jembatan Ampera dirancang bisa terangkat ke atas agar kapal-kapal besar dengan tinggi hingga 44,5 meter bisa melintas di bawahnya.
-
Waktu Pengangkatan: Proses mengangkat jembatan ini membutuhkan waktu sekitar 30 menit.
-
Berhenti Beroperasi: Sejak tahun 1970, aktivitas naik-turun jembatan ini dihentikan karena dianggap mengganggu arus lalu lintas darat yang mulai padat.
-
Pembongkaran Bandul: Pada tahun 1990, bandul pemberat (seberat masing-masing 500 ton) dibongkar demi alasan keamanan karena dikhawatirkan jatuh.
5. Evolusi Warna
Jembatan ini telah mengalami beberapa kali perubahan warna ikonik:
-
Awalnya: Berwarna abu-abu (1965).
-
1992: Diganti menjadi warna kuning.
-
2002–Sekarang: Menjadi warna merah yang sangat ikonik dan menjadi ciri khas hingga saat ini.
Statistik Singkat:
-
Panjang: 1.117 meter
-
Lebar: 22 meter
-
Tinggi Menara: 63 meter dari permukaan tanah
Apakah Anda tertarik untuk mengetahui lebih dalam tentang struktur teknis jembatan ini atau rekomendasi tempat terbaik untuk melihat pemandangannya di malam hari?
2. Benteng Kuto Besak (BKB)
Benteng Kuto Besak (BKB) adalah landmark sejarah yang sangat penting di Palembang, bahkan lebih tua dibandingkan Jembatan Ampera. Jika Ampera adalah simbol modernitas, BKB adalah simbol kedaulatan dan perlawanan Kesultanan Palembang Darussalam.
Berikut adalah perjalanan sejarah Benteng Kuto Besak:
1. Pembangunan oleh Tangan Pribumi (1780–1797)
Berbeda dengan banyak benteng di Indonesia yang dibangun oleh penjajah (Belanda atau Portugis), BKB adalah benteng yang dibangun atas inisiatif pribumi.
-
Prakarsa: Digagas oleh Sultan Mahmud Badaruddin I (1724–1758).
-
Penyelesaian: Diselesaikan oleh cucunya, Sultan Muhammad Bahauddin (1776–1803).
-
Waktu Pembangunan: Memakan waktu sekitar 17 tahun dan diresmikan pada 21 Februari 1797.
-
Material Unik: Dindingnya dibangun menggunakan batu bata yang direkatkan dengan campuran kapur, pasir, dan putih telur.
2. Fungsi: Dari Keraton ke Pertahanan
Awalnya, BKB bukan sekadar benteng pertahanan, melainkan sebuah Keraton (istana) yang menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Palembang.
-
BKB disebut juga sebagai Nieuwe Keraton (Keraton Baru) oleh Belanda, menggantikan Keraton Kuto Lamo yang sudah ada sebelumnya.
-
Letaknya sangat strategis, berada di titik yang dikelilingi sungai (Musi di selatan, Sekanak di barat, Tengkuruk di timur, dan Kapuran di utara), menjadikannya sulit ditembus musuh.
3. Saksi Perlawanan terhadap Belanda
Benteng ini menjadi saksi bisu keberanian rakyat Palembang dalam mempertahankan kemerdekaan.
-
Perang Palembang (1819 & 1821): BKB menjadi pusat komando Sultan Mahmud Badaruddin II dalam menghadapi serangan angkatan laut Belanda. Ratusan meriam disiagakan di sepanjang dinding benteng untuk menghalau kapal-kapal perang musuh di Sungai Musi.
-
Kejatuhan Palembang: Pada 1 Juli 1821, benteng ini akhirnya berhasil dikuasai Belanda setelah pengepungan yang panjang. Sultan Mahmud Badaruddin II kemudian ditangkap dan diasingkan ke Ternate.
4. Masa Kolonial hingga Sekarang
Setelah Kesultanan Palembang dihapuskan oleh Belanda pada tahun 1823:
-
Markas Militer: Belanda menjadikan BKB sebagai markas pertahanan dan tempat tinggal pejabat residen.
-
Era Kemerdekaan: Setelah Indonesia merdeka, pengelolaan benteng ini berpindah ke TNI. Hingga saat ini, bagian dalam benteng masih digunakan sebagai kantor Kodam II/Sriwijaya dan rumah sakit militer.
-
Cagar Budaya: Pada tahun 2004, BKB secara resmi ditetapkan sebagai Cagar Budaya Indonesia.
Detail Arsitektur yang Unik
-
Bentuk: Persegi panjang dengan panjang sekitar 288 meter dan lebar 183 meter.
-
Selekoh (Bastion): Memiliki 4 bastion di setiap sudutnya untuk menempatkan meriam.
-
Lawang Borotan: Pintu gerbang kecil yang terletak di sisi barat, yang konon merupakan pintu terakhir yang dilewati Sultan Mahmud Badaruddin II saat dibawa Belanda ke pengasingan.
Saat ini, pelataran di depan benteng telah disulap menjadi Plaza Benteng Kuto Besak, sebuah ruang publik populer bagi warga untuk menikmati pemandangan Sungai Musi dan Jembatan Ampera di malam hari.
3. Sungai Musi dan Dermaga Wisata
Berwisata ke Palembang tidak lengkap tanpa menyusuri Sungai Musi, sungai terpanjang di Sumatera. Wisatawan dapat naik perahu ketek atau kapal wisata untuk menikmati pemandangan kehidupan masyarakat di sepanjang sungai, termasuk rumah-rumah panggung khas Palembang. Trip kapal biasanya mencakup kunjungan ke Pulau Kemaro, rumah apung, hingga dermaga kuliner.
4. Pulau Kemaro
Pulau Kemaro merupakan destinasi populer yang terletak di tengah Sungai Musi. Pulau ini dikenal dengan kisah legenda cinta Tan Bun Ann dan Siti Fatimah. Di sini terdapat Pagoda 9 Lantai yang menjadi ikon wisata budaya Tionghoa. Pulau Kemaro juga sering dipadati pengunjung saat perayaan Cap Go Meh dan event budaya lainnya.
5. Museum Sultan Mahmud Badaruddin II
Museum ini berada dekat Jembatan Ampera dan menyimpan berbagai koleksi sejarah Kesultanan Palembang, artefak budaya Melayu, hingga peninggalan kolonial. Bangunannya yang bergaya kolonial menambah nilai estetik bagi wisatawan yang menyukai wisata sejarah dan edukasi.
6. Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo
Masjid Agung Palembang adalah salah satu masjid terbesar dan tertua di Sumatera. Arsitekturnya unik karena memadukan gaya Melayu, China, dan Eropa. Masjid ini menjadi pusat kegiatan keagamaan dan landmark religius yang banyak dikunjungi wisatawan.
7. Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya
Sebagai pusat pemerintahan kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara, situs Sriwijaya di Palembang memiliki nilai sejarah tinggi. Di Taman Purbakala, pengunjung bisa melihat jejak peninggalan kerajaan, kanal kuno, artefak, serta museum yang menjelaskan sejarah kejayaan Sriwijaya. Lingkungannya yang hijau dan tenang juga cocok untuk wisata edukasi keluarga.
8. Monpera (Monumen Perjuangan Rakyat)
Monpera berdiri megah di pusat kota, berseberangan dengan Masjid Agung. Bangunan monumen ini memiliki desain khas 7 pilar yang melambangkan perjuangan rakyat Palembang dalam melawan penjajahan. Di dalamnya terdapat museum mini yang menampilkan diorama perjuangan dan berbagai dokumentasi sejarah.
9. Jakabaring Sport City (JSC)
JSC merupakan kawasan olahraga bertaraf internasional yang pernah menjadi tuan rumah Asian Games 2018. Selain stadion Gelora Sriwijaya, kawasan ini juga memiliki danau buatan, lintasan jogging, taman rekreasi, dan area kuliner. Banyak keluarga menghabiskan waktu sore di sini untuk berolahraga atau sekadar menikmati suasana.
10. Danau OPI dan OPI Mall Area
Area Danau OPI semakin populer sebagai tempat wisata modern di Palembang. Pengunjung bisa menikmati waterpark, wahana bermain anak, kuliner, dan pemandangan danau yang Instagramable. Di sekitar danau juga sering diadakan festival dan acara musik.
11. Al-Qur’an Al-Akbar di Gandus
Destinasi religi ini terkenal akan keberadaan Al-Qur’an raksasa berukuran besar yang dipahat di atas kayu tembesu. Terdiri dari 30 juz, tempat ini menjadi lokasi wisata religi dan edukasi yang sangat inspiratif. Banyak pelajar dan wisatawan datang untuk melihat langsung kemegahan Al-Qur’an ukir ini.
Al-Qur’an Al-Akbar, yang sering dijuluki sebagai Al-Qur’an Raksasa, adalah mahakarya seni religi yang terletak di kawasan Pondok Pesantren Al-Ihsaniyah, Gandus, Palembang. Tempat ini secara resmi dikenal dengan nama Bayt Al-Qur’an Al-Akbar.
Berikut adalah sejarah dan keunikan dari Al-Qur’an terbesar di dunia yang dipahat di atas lembaran kayu ini:
1. Sosok di Balik Layar
Pembangunan mahakarya ini dipelopori oleh H. Syofwatillah Mohzaib (sering disapa Ustaz Opat). Menariknya, ide ini bermula dari pengalaman spiritual melalui mimpi, yang kemudian ia wujudkan sebagai bentuk kecintaan terhadap Al-Qur’an dan pelestarian seni ukir khas Palembang.
2. Proses Pembuatan yang Panjang (2002–2009)
Pembuatan Al-Qur’an ini tidaklah instan, melainkan memakan waktu sekitar 7 tahun:
-
Pengerjaan: Dimulai secara bertahap sejak tahun 2002.
-
Uji Publik: Sebelum diresmikan, lembaran-lembaran yang sudah selesai sempat dipajang di Masjid Agung Palembang selama tiga tahun untuk mendapatkan koreksi dan masukan dari para ulama serta masyarakat guna memastikan tidak ada kesalahan dalam penulisan ayat.
-
Material: Menggunakan Kayu Tembesu, kayu khas Sumatera Selatan yang dikenal sangat kuat, awet, dan tahan rayap.
3. Peresmian oleh Presiden (2012)
Setelah seluruh 30 juz selesai dipahat, Al-Qur’an Al-Akbar diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 30 Januari 2012. Peresmian ini bertepatan dengan konferensi parlemen negara-negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang saat itu diadakan di Palembang.
4. Spesifikasi dan Keunikan
Al-Qur’an ini memegang rekor sebagai salah satu yang terbesar di dunia dalam bentuk ukiran kayu:
-
Dimensi Lembaran: Setiap lembar memiliki ukuran 177 x 140 cm dengan tebal kayu sekitar 2,5 cm.
-
Jumlah Halaman: Terdiri dari 630 halaman (315 keping kayu yang dipahat bolak-balik).
-
Struktur Bangunan: Lembaran-lembaran ini disusun dalam rak-rak besar setinggi 15 meter (5 lantai).
-
Warna: Menggunakan kombinasi warna dasar cokelat kayu dengan tulisan ayat berwarna kuning emas, serta hiasan motif ukiran khas Palembang (Lakuer) di tepiannya.
5. Menjadi Destinasi Wisata Religi Dunia
Kini, Bayt Al-Qur’an Al-Akbar bukan hanya tempat ibadah atau pesantren, tetapi telah menjadi destinasi wisata religi internasional. Pengunjung bisa masuk ke dalam gedung dan melihat lembaran-lembaran raksasa tersebut yang bisa diputar untuk melihat sisi baliknya.
Informasi Pengunjung:
-
Lokasi: Jl. Moh. Amin, Gandus (sekitar 30-45 menit dari pusat kota).
-
Fasilitas: Terdapat area parkir, museum mini, dan spot foto yang sangat megah.
12. Kampung Kapitan
Kampung Kapitan adalah permukiman tua warga keturunan Tionghoa yang menyimpan sejarah panjang hubungan multikultural Palembang. Rumah Kapitan menjadi spot foto sejarah, menampilkan arsitektur kolonial dengan nuansa Tionghoa klasik. Kawasan ini juga menjadi lokasi event budaya dan kuliner.
13. Kampung Arab Al-Munawar
Kampung Arab Al-Munawar dikenal sebagai kampung budaya yang mempertahankan tradisi Arab-Palembang. Rumah-rumah kayu kuno berusia ratusan tahun masih berdiri kokoh. Wisatawan bisa berkeliling, menikmati kuliner khas, hingga berinteraksi dengan warga yang ramah.
14. Kambang Iwak Park
Kambang Iwak adalah taman kota yang populer untuk jogging, nongkrong, dan wisata keluarga. Dikelilingi deretan kafe dan restoran, kawasan ini menjadi favorit anak muda. Saat malam, lampu-lampu taman menciptakan suasana romantis dan nyaman.
15. Bukit Siguntang
Bukit Siguntang merupakan situs arkeologi peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang dipercaya sebagai tempat pemakaman para bangsawan. Area ini dikelilingi pepohonan besar dan suasana alam yang tenang, sehingga cocok untuk wisata sejarah sekaligus rekreasi ringan.
16. Museum Balaputera Dewa
Museum ini menampilkan artefak budaya Sumatera Selatan, seperti rumah adat limas, koleksi tekstil songket, barang-barang kerajaan, hingga fosil peninggalan prasejarah. Halaman museum yang luas dan rindang cocok untuk kegiatan edukasi dan foto wisata.
17. Palembang Bird Park
Terletak di kawasan Gandus, Palembang Bird Park menawarkan pengalaman wisata keluarga dengan koleksi burung dari berbagai daerah. Pengunjung dapat berinteraksi langsung, memberi makan burung, hingga berfoto dengan latar wahana edukasi hewan.
Tips Berwisata di Palembang
-
Datang saat sore atau malam untuk menikmati panorama Jembatan Ampera dan Sungai Musi.
-
Gunakan transportasi online agar lebih mudah menjangkau destinasi.
-
Cicipi kuliner khas seperti pempek, tekwan, lenggang, dan pindang meranjat.
-
Pilih hari biasa untuk menghindari keramaian di tempat populer seperti BKB dan JSC.
Kesimpulan
Palembang memiliki pesona wisata yang tidak hanya berfokus pada sejarah, tetapi juga budaya, religi, rekreasi, hingga modernitas kota. 17 tempat wisata di Palembang di atas adalah bukti bahwa kota ini menawarkan pengalaman lengkap untuk keluarga, pelajar, pasangan, maupun solo traveler. Dengan keindahan alam, kekayaan budaya, dan keramahan masyarakatnya, Palembang layak menjadi destinasi liburan utama di Sumatera Selatan.





